Tuesday, January 24, 2012

Status Finansial Inter (Sampai Akhir 2011)


Tak dipungkiri, sistem patronasi di Italia memang masih cukup kental. Hampir semua klub masih bergantung kepada kekayaan sang pemilik. Untung-rugi masih berupa jurang yang cukup tinggi. Demi mencapai prestasi, seorang pemilik pun tak ragu menggelontorkan dana besar tanpa melihat risiko yang mengadang.

Inter salah satunya. Sejak Massimo Moratti mengambil alih tampuk pimpinan, selama 16 tahun, I Nerazzurri telah merugi mencapai 1,3 miliar euro. Tapi semua kerugian tersebut bisa tertutupi berkat suntikan dana pribadi sang patron. Namun, sistem seperti itu sekarang mulai ditinggalkan. Demi beradaptasi dengan aturan Financial Fair Play yang akan dimonitor UEFA pada musim 2013-14, Inter harus bisa membiayai semua kerugian dengan pendapatan murni klub.

Banyak yang menyangsikan kemampuan Inter. Tradisi yang sudah mengakar selama belasan tahun tentu sulit dihilangkan. Toh, Moratti tetap optimistis. “Filosofi klub untuk dua tahun mendatang adalah menyeimbangkan neraca keuangan. Kami akan melakukan apa pun agar bisa mencapainya,” ucap Moratti setahun silam.

Program-program “tak populer” pun mulai diterapkan. Mulai dari penjualan pemain bintang bergaji tinggi hingga penerapan salary cap. Hasilnya mulai terlihat. Meski masih merugi, rapor keuangan Inter menunjukkan pergerakan ke arah lebih baik.

Inter berusaha keras menurunkan kerugian hingga 45 juta euro per tahun. Sebab itulah batas toleransi dari UEFA untuk Inter sejak diberlakukannya Financial Fair Play yang akan efektif terhitung pada 2012-13. Musim selanjutnya angka tersebut akan terus diturunkan secara berkala. Pada 2015-16, angka kerugian maksimal yang bisa ditoleransi UEFA adalah 30 juta euro. Lalu periode berikutnya pada 2018-19 angka tersebut masih akan menurun.

Dari data yang dilansir La Gazzetta dello Sport, Inter telah menunjukkan langkah positif. Jika pada 2007 rugi 206,3 juta euro, pada 2010 menurun jadi 67,5 juta euro. Terget pada 2011 sebenarnya terus turun ke angka 60 juta euro. Sayang pada 2011 target tersebut tidak tercapai. Kerugian Inter naik sedikit atau menjadi 84,6 juta euro.

*) Tren Kerugian Inter

Tahun

Rugi

2007

206,3 juta euro

2008

145,9 juta euro

2009

153,5 juta euro

2010

67,5 juta euro

2011

84,6 juta euro


PENGHEMATAN GAJI

Pada 2011 lalu, manajemen Inter menerapkan salary cap. Gaji pemain inti maksimal tiga juta euro per musim. Pengecualian hanya diberikan kepada beberapa pemain bintang. Selain pengetatan gaji, pemain bergaji tinggi seperti Samuel Eto’o, David Suazo, dan Amantino Mancini juga dilepas. Sebagai gantinya menajemen mendatangkan pemain muda bergaji rendah.

Dari kebijakan ini manajemen bisa menghemat pengeluaran gaji tahunan sebesar 17,9 juta euro. Gaji tertinggi di Inter sendiri masih dipegang oleh Wesley Sneijder, yakni 6 juta euro per tahun. Dan, jika pada akhirnya Sneijder benar-benar dilepas paling lambat pada musim panas mendatang, tentu akan berpengaruh signifikan terhadap pemangkasan pengeluaran gaji pemain. Namun, Inter tentu tak akan sembarangan dalam melepas seluruh pemain bintangnya. Pertimbangan keseimbangan kekuatan tim tentu masih harus diperhitungkan.

Inter sendiri berada di urutan kedua dari 20 klub Serie-A dengan pengeluaran gaji tertinggi. Total selama setahun Inter menggelontorkan 145 juta euro untuk membayar gaji para pemainnya. Hanya kalah dari AC Milan yang mengeluarkan sebesar 160 juta euro per tahun. Zlatan Ibrahimovic masih memegang status pemain bergaji tertinggi di Milan maupun Serie-A, dengan 9 juta euro per musim.

Yang menarik Juventus. Mereka berada di urutan ketiga klub dengan pengeluaran gaji tinggi. Total, Si Nyonya Tua harus menggelontorkan biaya 100 juta euro untuk gaji pemain. Termasuk gaji tertinggi yang dimiliki Gianluigi Buffon senilai 6 juta euro per tahun. Akan tetapi, pengeluaran Juventus tampaknya akan berkurang drastis seiring kepergian Amauri ke Fiorentina, dan kemungkinan hengkangnya Luca Toni serta Vincenzo Iaquinta. Maklum, ketiganya termasuk pemain bergaji tinggi di Juventus. Amauri memperoleh 4 juta euro, sementara Toni dan Iaquinta sama-sama mengantongi 3 juta euro per tahunnya. Jika Toni dan Iaquinta menyusul Amauri, berarti Juventus akan berhemat sebesar 10 juta euro.

Inter sendiri bisa saja mengambil kebijakan serupa andai berani melepas Sneijder (gaji: 6 juta euro), Diego Milito (4,5 juta euro), Maicon (4 juta euro), Cristian Chivu (3,5 juta euro), atau Thiago Motta (3 juta euro). Apalagi beberapa pemain dengan gaji tak terlalu tinggi seperti Andrea Ranocchia (1,50 juta euro), Ricky Alvarez (1 juta euro), Yuto Nagatomo (0,70 juta euro), atau Andrea Poli dan Philippe Coutinho (0,60 juta euro) sudah menunjukkan kemajuan pesat.

*) Pemain baru 2011-12

Nama

Gaji bersih

Gaji kotor

Diego Forlan

3,5 juta euro

7 juta euro

Gianpaolo Pazzini

2,5 juta euro

5 juta euro

Andrea Ranocchia

1,5 juta euro

2,5 juta euro

Jonathan

1,2 juta euro

2,5 juta euro

Ricardo Alvarez

1 juta euro

2,5 juta euro

Emiliano Viviano

1 juta euro

3 juta euro

Yuto Nagatomo

0,7 juta euro

3 juta euro

Luc Castaignos

0,4 juta euro

1,4 juta euro

Mauro Zarate*

2 juta euro

5 juta euro

Andrea Poli*

0,6 juta euro

1,8 juta euro

Jumlah gaji


33,7 juta euro

*) Pemain dilepas 2011-12

Nama

Gaji bersih

Gaji kotor

Samuel Eto’o

8 juta euro

20 juta euro

Davide Santon

1 juta euro

2 juta euro

Amantino Mancini

3,5 juta euro

7 juta euro

David Suazo

3,2 juta euro

6,4 juta euro

Jonathan Biabiany

0,8 juta euro

1,6 juta euro

Victor Obinna

1 juta euro

2 juta euro

Nelson Rivas

1 juta euro

2 juta euro

Marco Materazzi

1,5 juta euro

3 juta euro

Goran Pandev*

3 juta euro

6 juta euro

McDonald Mariga*

0,8 juta euro

1,6 juta euro

Jumlah gaji


51,6 juta euro

Total Penghematan: 17,9 juta euro

Keterangan: * Pemain status pinjaman/ dipinjam


PEMASUKAN DARI BURSA TRANSFER

Inter Milan di bawah Moratti terkenal sebagai tim yang selalu boros di bursa transfer. Selama 12 tahun hingga pengujung 2009 saja, total pengeluaran mereka mencapai 473 juta euro. Tapi sejak 2009-10 kebijakan mereka berubah drastis. Inter mulai berusaha menghasilkan uang dari bursa transfer. Tiga musim terakhir, Inter hanya menggelontorkan dana 24 juta euro di bursa transfer.

Meski pada era Jose Mourinho beberapa pemain bintang seperti Samuel Eto'o, Diego Milito dan Wesley Sneijder dihadirkan, namun semua bisa tertutup berkat pendapatan dari menjual Zlatan Ibrahimovic ke Barcelona senilai 54 juta euro, Jonathan Biabany ke Parma (5 juta euro), dan Maxwell ke Barcelona (4 juta euro) pada 2009 lalu. Selain itu, penjualan pada tahun berikutnya pun cukup mengesankan, yakni melepas Mario Balotelli ke Manchester City (31 juta euro), Nicolas Burdisso ke AS Roma (8 juta euro) dan Mattia Destro ke Genoa (5 juta euro). Pun ditambah biaya kompensasi sebesar 16 juta euro yang dibayar Real Madrid untuk memboyong Jose Mourinho.

“Mulai sekarang kami lebih fokus menjual pemain. Setelah mendapatkan uang dari penjualan, kami baru bisa berpikir tentang pembelian,” kata Direktur Umum Inter Milan, Ernesto Paolillo.

Atas dasar hal itu, tak heran jika belakangan Inter terlihat getol membeli pemain-pemain berusia muda yang namanya bahkan masih cukup asing. Sebut saja Ricky Alvarez, Jonathan, Luc Castaignos, atau yang sudah datang sebelumnya Philippe Coutinho. "Sekarang kami memburu pemain muda dengan potensi besar, pemain yang akan kami kembangkan," tutur direktur teknik Inter, Marco Branca.

*) Transaksi di bursa transfer lima musim terakhir

Musim

Untung/ Rugi

2011-12

0

2010-11

(+) 19

2009-10

(+) 15

2008-09

(-) 53

2007-08

(-) 26

Keterangan: Dalam juta euro


PENDAPATAN TERUS NAIK

Berdasarkan data Deloitte, pendapatan Inter dari tahun ke tahun selalu naik. Untuk periode 2010, Inter mengantongi 225 juta euro. Artinya, jika dihitung sejak 2006, pendapatan Inter mengalami pertumbuhan 13 persen tiap tahunnya.

Saat ini Inter keluar sebagai klub dengan pendapatan terbesar nomor sembilan dunia dan terbesar kedua di Italia setelah AC Milan. Sayangnya, pemerataan sumber pendapatan Inter kurang bagus. Sekitar 62 persen di antaranya disumbang oleh hak siar televisi. Pendapatan dari tiket hanya 17 persen, sementara sisi komersial 21 persen.

Pendapatan Inter




HAK SIAR TELEVISI, TIKET STADION, & SISI KOMERSIAL

Selain mengetatkan ikat pinggang, Inter harus bisa meningkatkan pendapatan klub lebih besar lagi. Saat ini pendapatan Inter berasal dari tiga sumber yakni hak siar televisi, tiket stadion, dan sisi komersial.

Untuk hak siar televisi, pendapatannya sudah susah ditingkatkan lagi. pasalnya, saat ini Inter merupakan klub dengan pendapatan hak siar terbesar di Italia. Sektor yang masih bisa ditingkatkan lagi adalah pendapatan tiket dan sisi komersial.

Inter sebenarnya punya modal besar untuk meningkatkan pendapatan dari sektor tiket stadion. Ingat, saat ini, jumlah penonton laga Inter di Giuseppe Meazza adalah yang terbanyak di Italia. Mereka mengalahkan AC Milan, AS Roma, dan Juventus.

Sebagai contoh bisa dilihat dari tingkat kepenuhan stadion. Musim lalu,jumlah penonton Inter tiap pertandingan mencapai 58 ribu penonton. Terbanyak di Italia. Jumlah penonton Milan ada di tempat kedua, yakni sekitar 50 penonton tidap laga. Peringkat ketiga diisi Napoli, yakni 45 ribu penonton per pertandingan.

Fakta itu membuat pendapatan tiket stadion Inter menjadi yang terbesar di Italia, yakni 33 juta euro per musim. Sayang, meski terlihat besar, pendapatan tersebut tidak ada apa-apanya dibanding pendapatan tiket stadion klub-klub Inggris. Dibanding Manchester United, pendapatan Inter tidak lebih dari seperempatnya.

Penyebab utama minimnya pendapatan tiket stadion karena status Giuseppe Meazza yang menjadi milik pemerintah kota. Tiap tahunnya, Inter harus membayar sewa 4,5 juta euro.

Selain itu, Inter juga hanya bisa mengoptimalkan pendapatan dari stadion ketika ada pertandingan. Padahal, di klub-klub Inggris dan Jerman, klub bisa menerima pendapatan dari kunjungan wisatawan ke stadion. “Di Eropa, stadion bisa menghasilkan uang selama tujuh hari penuh. Sementara itu, kami tidak bisa melakukannya karena masih menyewa ke pemerintah kota,” keluh Direktur Umum Inter, Ernesto Paolillo.

Secara keseluruhan, pertumbuhan pendapatan Inter selama lima tahun terakhir hanya sebesar 13 persen. Dari 188 juta euro menuju 213 juta euro. Tak heran, seperti klub-klub Italia lain, mayoritas pemasukan Inter memang didapat dari hak siar televisi, yakni sekitar 124 juta euro. Berdasarkan data yang dikeluarkan FIGC, Serie-A merupakan kompetisi yang pemasukannya paling bergantung kepada hak siar televisi (65%). Bandingkan dengan Prancis (60%), Inggris (50%), Spanyol (38%), dan Jerman (32%).

Pada 2010 lalu, Inter juga mendapat pemasukan cukup besar dari hak siar televisi, yakni mencapai 138 juta euro. Angka itu diraih berkat performa di kancah domestik, dan Liga Champions, di mana Inter berhasil melaju ke final dan tampil sebagai juara. Namun, tak selamanya mereka harus bergantung pada hak siar televisi. Keseimbangan masuknya keuntungan dari lubang lain pun harus dipertimbangkan. Hal ini yang tentunya masih menjadi pe-er bagi jajaran direksi La Beneamata demi mengikuti Financial Fair Play yang dimainkan UEFA.

(Grafik & data: FIGC, Transfermarkt, Swiss Ramble, La Gazzetta, Deloitte, dll)

Friday, January 20, 2012

Diego Milito: Saat Bidone d'Oro Tak Lagi Menakutkan


Form is temporary, but Class is permanent
. Ujar-ujar itu saya pikir pantas diapungkan saat menyimak perjalanan karier seorang Diego Milito. Dia memang bukan pemain dengan pesona luar biasa seperti Lionel Messi, Cristiano Ronaldo, ataupun Zlatan Ibrahimovic. Perjalanan karier pun tak semengilap ketiganya. Meski begitu, Milito mampu menunjukkan performa laiknya seorang bintang. Tampak dari performa termutakhir, setelah dia dinobatkan sebagai peraih Bidone d'Oro, atau pesepak bola terburuk sepanjang 2011.

Bagi sebagian besar pesepak bola di Italia, Bidone d'Oro memang dianggap sebagai kutukan nan menakutkan. Bagaimana tidak, sejak penghargaan Bidone d'Oro mulai diusung Rai Radio pada 2003 silam, kutukan Golden Bin, trofi yang diberikan kepada peraih Bidone d'Oro, secara perlahan bisa mematikan karier sang pemain. Bahkan hampir mustahil bagi pemain tersebut untuk kembali menemukan sinarnya.

Setidaknya hal itu yang pernah dirasakan nama-nama populer seperti Rivaldo, Christian Vieri, Adriano, Nicola Legrottaglie, Ricardo Quaresma, hingga Felipe Melo. Penampilan memesona mereka semakin memudar usai meraih predikat pemain terburuk hasil jajak pendapat yang diselenggarakan Rai Radio. Rivaldo langsung mudik dari AC Milan menuju Cruzeiro sebelum mengembara bersama klub-klub medioker di belahan Eropa lain seperti Olympiakos, AEK Athens, hingga Bunyodkor. Vieri pun setali tiga uang. Performa mengecewakan di San Siro tak kunjung membaik. ia pun terusir hingga ke AS Monaco. Nasib tak jauh berbeda dialami Quaresma dan Melo.

Sedikit apresiasi pantas diberikan kepada Adriano. Bukan karena striker asal Brasil ini berhasil meraih tiga gelar Bidone d'Oro, melainkan mentalitas yang ditunjukkan dalam upaya bangkit dari keterpurukan. Setelah meraih Golden Bin sebanyak dua kali berturut-turut selama di Inter, Adriano sempat dipaksa mudik ke Flamengo.

Namun, pada usia yang masih tergolong muda, semangat membara ditunjukkan pemain berjuluk L'Imperatore ini. Pinangan dari AS Roma pun disambut dengan tangan terbuka. Petualangan kedua di Italia resmi dilakoni bersama skuad Serigala Ibukota. Sial bagi Adriano, kutukan Bidone d'Oro ternyata masih terus menghantuinya. Total, dia hanya merasakan lima kali kesempatan bermain tanpa sekalipun mencetak gol. Pencinta sepak bola Italia pun tak ragu kembali menghadiahi pemain kelahiran Rio de Janiero itu trofi Golden Bin yang keempat kalinya. Konsekuensinya cukup pahit, dia pun kembali terkucilkan, hingga memilih pulang kampung ke Corinthians.

Cara Milito mencetak gol pada musim ini.


Pada 11 Desember 2011 lalu, pendukung Inter dipaksa ketar-ketir melihat rilis yang dikeluarkan Rai Radio. Tiga nama dari skuad La Beneamata masuk nomine peraih Bidone d'Oro 2011. Dua pemain baru, dan satu muka lama. Ironis, satu nama itu tak lain protagonista utama saat final Liga Champions 2009-10 di Santiago Bernabeu, yakni Milito. Puncaknya ketika nama Milito akhirnya masuk ke jajaran pengoleksi Bidone d'Oro. Sebuah hasil voting yang tentu membuat para Interisti bak kebakaran jenggot. Namun tidak bagi pemerhati sepak bola lain. Pasalnya, performa Milito usai membawa Inter meraih treble winner pada 2010 silam memang mulai terjun bebas.

Jika pada musim pertamanya dia mampu menorehkan total 30 gol dari 51 penampilan, musim berikutnya koleksi golnya mulai tergerus. Torehan 8 gol bahkan tak sampai separuh dari pencapaiannya pada musim pertama di Inter. Badai cedera menjadi salah satu penyebab keran gol Milito mulai tersumbat. Tak pelak, rumor kepindahannya dari Giuseppe Meazza pun kian beredar santer. Genoa coba memanfaatkan situasi dengan bujuk rayu agar sang striker mau kembali ke Luigi Ferraris.

Akan tetapi, manajemen Inter tak mau gegabah. Kepergian Samuel Eto'o ke Anzhi Makhachkala pada musim panas lalu, membuat Presiden Massimo Moratti memutuskan menjaga salah satu generasi emas tersisa peninggalan Jose Mourinho. Disebut generasi emas karena sejak era La Grande Inter yang dibesut allenatore legendaris, Helenio Herrera, medio 1960-an silam, baru kali ini mereka mampu berjaya di kancah Eropa. Gayung bersambut, Milito bersikeras enggan meninggalkan Appiano Gentile. Rayuan Genoa pun ditampiknya. Kesetiaan bersama skuad I Nerazzurri tetap dijaga.

"Tak pernah sedikitpun terlintas dalam pikiranku untuk pergi. Situasi seperti ini sering terjadi di sepak bola. Aku hanya perlu tenang, dan terus bekerja keras. Aku percaya, fans Inter akan selalu berada di belakangku," tutur Milito dengan penuh rasa percaya diri.

Buah kerja keras dan kesabaran Milito pun terjawab. Penampilannya meningkat pesat pada tiga laga terakhir. Diawali sebiji gol sebagai penutup tahun kala Inter meraih kemenangan 4-2 atas Lecce, Milito mendapat standing ovation dari publik Giuseppe Meazza kala menyumbangkan dua gol dan satu assist pada laga pembuka 2012, menghadapi Parma. Inter menang dengan skor telak 5-0, dan Milito mencatatkan namanya sebagai man of the match pada laga itu.

Tak banyak yang mengira Milito mampu bangkit secepat itu. Terlebih, gol demi gol tercipta kurun sebulan kurang sejak membawa pulang kutukan Bidone d'Oro. Puncaknya, kala Inter harus berhadapan dengan rival sekota, Milan dalam laga bertajuk Derby della Madonnina. Insting membunuh Milito kembali muncul. Diawali sentuhan apik usai menerima bola sodoran dari kapten sekaligus rekan senegaranya, Javier Zanetti, Milito memaksa kiper Christian Abbiati takluk melalui sepakan diagonal kaki kirinya. Gol yang membuat Interisti berpesta di tengah dominasi Milanisti di San Siro.

Puja-puji pun mengalir deras. Julukan Il Principe kembali laik disematkan kepada striker berusia 32 tahun ini. "Dia salah satu orang yang pernah membantu Inter memenangkan Liga Champions, sehingga jelas sangat layak dihormati. Kenapa saya masih memberinya kepercayaan? Pertama, saya menghargai kariernya. Kemudian apa yang disumbangkannya kepada tim, saya berharap dia bisa memberikan sesuatu kepada tim hari ini dan seterusnya. Cepat atau lambat Il Principe akan kembali," sanjung sang allenatore, Claudio Ranieri.

Ya, pujian Ranieri memang cukup beralasan. Milito bukan pemain biasa. Kelasnya sebagai seorang bintang berhasil membawanya keluar dari lubang hitam yang sempat menghambat kariernya. Visi, teknik sempurna, dan ketenangan, menjadi kelebihan yang dimiliki Milito untuk menjadi seorang striker istimewa. Dia bukan bomber egois, namun cukup cerdas untuk membuat keputusan singkat, kapan harus mengoyak gawang lawan, kapan harus memberi assist. Penampilannya di lapangan memang tak melulu sempurna, namun kelasnya sebagai seorang pemain bintang tak akan pernah lekang oleh usia. Milito memberi pelajaran bagi para pemain muda Inter. Bahwa keterpurukan bukanlah akhir, melainkan transformasi seorang pemain menuju kebintangan. @IrawanCobain

Statistik performa Milito musim 2011-12.

Perkembangan nilai jual Milito dari tahun ke tahun.

Monday, December 19, 2011

Angin Regenerasi di Skuad La Beneamata

Di bawah kendali Claudio Ranieri, I Nerazzurri mulai berani memberi kepercayaan kepada para pemain muda.


Putusan Inter Milan untuk menunjuk Claudio Ranieri sebagai pelatih tampaknya tepat. Perlahan-lahan, performa I Nerazurri mulai stabil. Kemenangan demi kemenangan semakin sering diraih.

Ranieri bahkan berani sesumbar dengan mengatakan Inter masih menjadi favorit peraih titel juara. “Jika harus bertaruh satu euro untuk scudetto, saya akan menempatkan uang saya ke Inter. Mereka tetap tim favorit saya,” kata pelatih berjuluk The Tinkerman ini.

Kebenaran ucapannya masih perlu ditunggu pada akhir musim nanti. Namun yang jelas, Inter di bawah kendali Ranieri berada di trek yang benar. Selain hasil positif, indikasi lainnya adalah mulai tumbuhnya regenerasi pemain di tubuh I Nerazzurri.

Dalam tujuh laga baik di Serie-A maupun Liga Champions, Ranieri mulai berani memberi kepercayaan kepada para pemain muda. Meski tidak selalu tampil sejak menit pertama, para youngster itu mencicipi laga resmi. Para pemain belia yang beruntung tersebut adalah Joel Obi, Ricardo Alvarez, Coutinho, Davide Faraoni, dan Luc Castaignos.

Menariknya, performa para pemain tersebut tidak mengecewakan. Alvarez misalnya. Dia mampu mengemban peran yang ditinggalkan oleh Wesley Sneijder sebagai playmaker.

Castaignos tidak kalah apik. Meski belum pernah bermain sejak menit pertama, eks pemain Feyenoord ini membuka keran golnya bersama Inter di Serie-A pada laga melawan Siena (27/11).

Selain itu, performanya telah membuat Ranieri jatuh hati. Itulah yang mendasari tekad Ranieri untuk mendidik Castaignos. “Masa depan cerah menantinya. Saya menyiapkannya untuk berbagai peran. Secara alami, dia adalah striker, seorang penyerang tengah, namun dia juga bisa bermain di sayap,” kata Ranieri.

Performa Coutinho, Faraoni, dan Obi juga tidak bisa dibilang buruk. Faraoni adalah angin segar di tengah makin menuanya barisan defender I Nerazzurri. Suatu saat, pemain berumur 20 tahun tersebut bisa menggantikan Douglas Maicon di posisi bek kanan. Sementara Obi menambah energi di lini tengah dengan agresivitasnya. Tak heran, di antara para pemain muda yang diturunkan Ranieri, Obi yang paling sering main.

Khusus untuk Coutinho, Ranieri memang memiliki misi khusus. Dia sengaja memberi kesempatan main sebagai ujian bagi Countinho. Jika sukses, Inter tentu akan berpikir ulang untuk meminjamkan Countinho ke klub lain pada Januari nanti.

DISAMBUT SENIOR

Terlepas dari itu, angin regenerasi mulai berembus di Inter. Alih-alih resisten, fenomena ini justru disambut dengan tangan terbuka oleh para pemain senior. Salah satu yang antusias adalah Andrea Ranocchia. Dia menilai perkembangan pemain muda bakal membantu Inter meraih hasil terbaik.

“Tahun ini, banyak sekali pemain muda yang datang dari negara lain. Tentu mereka butuh waktu untuk beradaptasi. Namun, dalam beberapa laga terakhir Alvarez dan Castaignos sudah mencetak gol. Ini menandakan mereka mulai padu,” kata Ranocchia.

Sikap Ranocchia sungguh tepat. Beberapa andalan seperti Sneijder, Maicon, dan Diego Forlan tengah cedera. Inter butuh pemain muda seperti Alvarez, Faraoni, dan Castaignos untuk menggantikan tugas mereka.



Santer Di Tengah

Dibanding sektor lainnya, peremajaan di tubuh Inter paling deras terjadi di lini tengah. Tiga pemain muda dipercaya bermain oleh Claudio Ranieri. Jumlah itu paling tinggi ketimbang sektor lain seperti lini depan dan belakang.

STRIKER
Luc Castaignos (19 tahun)
Main - 3
Inti - 0

Pengganti - 3


MIDFIELDER

Joel Obi
(20 tahun)
Main - 6

Inti - 1
Pengganti - 5


Ricky Alvarez
(23 tahun)
Main - 5

Inti - 2

Pengganti - 3


Philippe Coutinho (19 tahun)
Main - 2

Inti - 1

Pengganti - 1


DEFENDER
Marco David Faraoni (19 tahun)
Main - 2

Inti - 0
Pengganti - 2


* Data sejak Ranieri melatih Inter di Serie-A dan Liga Champions.

Sunday, December 11, 2011

Stadion Baru Inter: Siap Untuk Musim 2013-14

Saat Inter Milan berhasil merengkuh treble winner pada 2010 lalu, tentunya menjadi prestasi yang membanggakan bagi sepak bola Italia, khususnya Interisti. Namun, jika menilik lebih jauh, keberhasilan tersebut hanya menjadi euforia semu bagi sepak bola Italia. Bagaimana tidak, sejak tahun lalu, Italia mengalami penurunan prestasi drastis di Eropa. Nilai koefisiensi mereka dilampaui Jerman yang mengusung Bundesliga 1. Popularitas Serie-A mungkin lebih unggul, namun dari segi peningkatan infrastruktur, pengelolaan bisnis, serta daya tarik penonton, Bundesliga 1 cukup pesat perkembangannya.
Miris melihat stadion-stadion di Italia tak melulu dipenuhi penonton. Berbanding terbalik dengan stadion-stadion di Jerman yang hampir selalu penuh. Padahal, dari segi fanatisme, suporter Italia tak kalah. Namun ada satu pembeda. Saat Inggris, Spanyol, maupun Jerman mulai mengusung sepak bola industri, Italia masih berkutat dengan konsepsi awal, yakni sekadar olahraga dan permainan, demi mengejar prestasi.
Ya, dari konsepsi awal yang dipahami banyak orang, sepak bola memang tak lebih dari sekadar olahraga dan permainan. Tak kurang, tak lebih. Hingga akhir 1960-an, citra itu sangatlah lekat. Namun, seiring modernisasi yang bergulir di seluruh penjuru jagat dan berkembangnya profesionalisme di sepak bola, citra tersebut mulai bergeser. Kini, sepak bola adalah bisnis dan hiburan.
Dalam kerangka itulah para pengelola klub sepak bola kian gencar dalam berlomba mengeruk uang. Perhitungan untung-rugi menjadi hal yang sangat lazim. Namun hal itu belum tampak di Italia. Terbaru, AS Roma mulai berpaling dari konsepsi lama, dan mulai mengusung sepak bola industri. Dipelopori oleh pengusaha asal Amerika Serikat selaku pemilik baru, Thomas Di Benedetto.
Memang tak instan. Manchester United, Arsenal, Chelsea hingga Manchester City pun merasakan hal itu pada awal-awal revolusi mereka. Namun, setidaknya pengorbanan itu diyakini bakal membuahkan hasil.
Dari tahun ke tahun, sepak bola menjelma menjadi bisnis raksasa dengan omset triliunan rupiah. Klub-klub kian berlomba menjadi yang terdepan dalam pendapatan dan keuntungan. Pelbagai cara pun dilakukan, dari menarik sponsor sebanyak-banyaknya hingga merombak dan membangun stadion baru.
Dalam beberapa tahun terakhir, langkah pembangunan stadion baru menjadi tren anyar. Tengok saja Bayern Muenchen yang mengeluarkan uang 340 juta euro (sekitar Rp5,3 triliun) untuk membangun Stadion Allianz Arena pada 2002-05. Arsenal lebih gila. Mereka mengeluarkan 430 juta pounds (sekitar Rp7,2 triliun) kala membangun Stadion Emirates.
Di Italia, dengan bangga Juventus memperkenalkan markas baru mereka, Juventus Arena, yang dibangung dengan mengorbankan lahan seluas 355.000 hektar di bekas lokasi Stadion Delle Alpi. Kini, mereka bisa mengusungkan dada, sebagai pelopor pembangunan stadion pribadi di Italia.
Jika dibandingkan Alianz Arena dan Emirates, Juventus Arena memang tak lebih besar. Biaya yang dikeluarkan pun masih jauh di bawahnya, yakni sekitar 100 juta euro (sekitar Rp1,2 trilyun). Namun, jangan ditanya berapa keuntungan yang diraup I Bianconeri dengan memiliki stadion berkapasitas 41.000 penonton itu. Sejak menempati Juventus Arena, penghasilan mereka ditaksir tak kurang dari 60-70 juta euro. Bandingkan ketika Si Nyonya Tua harus turun kasta ke Serie-B. Pemasukan mereka hanya berkisar 8 juta euro (sekitar Rp96,6 miliar).
Bagaimana dengan klub-klub lain? Sedikit bocoran, Lazio pun sudah berencana menempati stadion baru yang dinamai Stadion Delle Aquile yang tengah dalam masa pematangan. AC Milan dan AS Roma pun tak kalah. Mereka terus bergerak untuk mewujudkan rencana kepemilikan stadion pribadi.
Lalu Inter? Sudah menjadi rahasia umum klub yang dikuasai taipan minyak, Massimo Moratti ini berharap sudah memiliki stadion baru, setidaknya pada musim 2013-14. Mengenai rencana pembangunan stadion baru milik Inter pun sudah sempat saya bahas di artikel sebelumnya (Kado Perpisahan Untuk Giuseppe Meazza).
Wacana membangun stadion baru sudah muncul sejak 2008 lalu, bertepatan dengan pesta seratus tahun lahirnya Inter. Setahun masa penggodokan rencana itu, hingga kini mereka sudah memulai pembangunan proyek yang ditaksir senilai 300-400 juta euro, atau tak kurang dari Rp4,3 triliun. Dana tersebut didapat dari pelbagai sumber, mulai dengan meminjam ke bank, hingga sponsorship.
Moratti sendiri tak main-main. Pengorbanan sudah dilakukan, termasuk mengontrol kebijakan transfer demi menyeimbangkan neraca keuangan. Jangan heran dalam beberapa tahun terakhir Inter kerap menjual pemain-pemain bintang dengan harga selangit. Zlatan Ibrahimovic ke Barcelona, Mario Balotelli ke Manchester City, hingga Samuel Eto'o ke Anzhi Makhachkala. Semua mutlak demi memperkokoh fondasi Inter, dalam hal prestasi maupun bisnis.
Hingga kini, proyek stadion baru memang terkesan rahasia. Sangat jarang pemberitaannya muncul di media. Namun, agaknya kejutan besar memang tengah direncanakan Moratti. Stadion yang akan didedikasikan untuk dua mantan presiden klub, Angelo Moratti (ayah Massimo Moratti) serta Giacinto Facchetti (eks kapten Inter) ini akan memiliki kapasitas sekitar 60-65.000 tempat duduk. Memang tak sebanding dengan Giuseppe Meazza yang memiliki 85.700 tempat duduk. Namun Moratti lebih mementingkan kenyamanan, serta fasilitas lengkap nan modern.
Tugas berat pun tengah dilakukan Sports Investment Group, selaku konsultan pelaksana proyek pembangunan stadion baru Inter. Di stadion baru, bakal terdapat fasilitas bintang lima, seperti restoran, pusat perbelanjaan, tempat bermain anak-anak, museum, galeri piala dan banyak lagi. "Kami tengah mengerjakan stadion baru untuk Inter. Dibanding dengan yang dulu, markas baru ini akan memiliki teknologi dan fasilitas multimedia yang jauh lebih lengkap,” ujar manajer proyek Sports Investment Group, Nicholas Gancikoff seperti dilansir La Gazzetta dello Sport.
Selain fasilitas lengkap dan modern, Moratti memang menjadikan kenyamanan penonton sebagai harga mati. Selain lahan parkir luas, beserta sarana transportasi komplet, sudut penglihatan penonton di setiap tribun pun akan dibuat lebih nyaman dan semaksimal mungkin. Selain itu, satu lagi inovasi di dalam stadion, yakni tidak adanya trek lari yang menjadi jarak penonton dengan lapangan.
Di tempat duduk penonton, khususnya di tribun VIP pun akan tersedia penyewaan layar genggam untuk mempermudah melihat tayangan ulang gol atau kejadian-kejadian penting selama pertandingan. Dengan menyediakan 10-20 ribu tempat duduk VIP, Moratti berharap mendapatkan sekitar 100 juta euro (Rp1,45 triliun) per tahunnya. Jika demikian, hanya tiga tahun modal Moratti sudah bisa kembali. Sekadar info, pendapatan Inter dari Giuseppe Meazza hanya sekitar 30 juta euro (Rp436,2 miliar) per tahunnya. Sudah termasuk potongan-potongan berupa uang sewa, pajak, dan sebagainya.
Sebagai perbandingan, klub raksasa Inggris, Manchester United masih berada di atas dalam hal penghasilan dari penonton di stadion, yakni mencapai 138 juta euro atau sekitar Rp1,66 triliun. Diikuti Arsenal (135 juta euro), Chelsea (111 juta euro), Barcelona (89 juta euro), Real Madrid (82 juta euro), serta Liverpool (57 juta euro). Salah satu rival Inter, AS Roma dan Lazio diperkirakan meraup 24 juta euro (sekitar Rp289,9 miliar) selama bermukim di Stadion Olimpico.
Berdasarkan pengamatan Deloitte, pembangunan stadion baru memang mendongkrak pendapatan klub. “Salah satu keunggulan klub-klub Inggris yang membuat mereka mendominasi Football Money League adalah kesinambungan investasi terhadap stadion,” ungkap Alan Switzer, salah satu direktur di Sports Business Group Deloitte. “Performa klub-klub Jerman juga melonjak karena perbaikan dan pembangunan stadion baru. Perlu diingat, stadion tetaplah aset terbesar.”
Well, mari kita sama-sama berharap investasi yang digelontorkan Moratti dalam waktu tidak terlalu lama sudah mendatangkan keuntungan. Dari segi finansial, maupun prestasi. Dan tentu stadion baru nantinya bakal menjadi kebanggaan Interisti. Jika tidak ada aral melintang, pada 2013-14, Inter sudah siap menempati markas baru ini. (@IrawanCobain)
Beberapa gambar kemungkinan stadion baru Inter (foto dari Sport.virgilio.it):



In Memoriam: Giacinto Facchetti

In Memoriam: Giacinto Facchetti