Thursday, September 1, 2011

Surat Perpisahan Samuel Eto'o



Samuel Eto'o sudah resmi meninggalkan Inter Milan. Meski hanya bermukim selama dua tahun, namun jasanya cukup besar dalam membantu I Nerazzurri menggapai kesuksesan.

Tak heran jika sosok berusia 30 tahun itu masih sangat dicintai Interisti. Karenanya, saat kepastian pindah menuju klub kaya Rusia, Anzhi Makhachkala, dia tetap tak melupakan Inter. Surat perpisahan terbuka pun dilontarkan Eto'o kepada seluruh pihak yang berjasa terhadap kariernya selama bermukim di Inter.

"Aku rasa ini saat yang tepat untuk mengucapkan terima kasih atas dua tahun yang fantastis bersama Inter. Pertama, aku ucapkan terima kasih kepada Presiden Massimo Moratti dan keluarga atas segala yang telah diberikan kepadaku. Aku akan selalu merasa istimewa di mata Moratti. Terutama dengan sikap respek dan kasih sayang yang diberikan," beber Eto'o.

"Berikutnya, aku berterima kasih kepada seluruh rekan setim. Aku merasa tanpa kerja sama dan bantuan semua, Inter tak akan sukses dan meraih kemenangan di level nasional maupun internasional."

"Terima kasih mendalam juga kepada pelatih, khususnya Jose Mourinho atas kesempatan membawaku ke Kota Milan. Juga kepada direktur teknik Marco Branca, direktur olahraga Piero Ausilio, manajer tim Andrea Butti, dan semua staf di Inter serta Centro Sportivo Angelo Moratti, Appiano Gentile."

"Aku tak akan pernah melupakan kasih sayang dari fans Inter -Mauro salah satu yang terbesar di antara mereka- yang membuat aku merasa bagian dari mereka. Selalu mendukung dan membantuku. Terima kasih juga kepada 'ibuku' di Italia, Ciacia Guzzetti atas bantuannya. Manajerku Claudio Viforelli untuk komitmen dan sikap profesionalisme," imbuh dia.

Di antara seluruh skuad Inter, ada satu figur yang sangat dikagumi Eto'o selama berada di Appiano Gentile, dan itu adalah Marco Materazzi. Mantan defender yang mengakhiri kariernya di Inter pada akhir musim lalu memang dikenal sangat dekat dengan semua pemain maupun tifosi.

"Terima kasih kepada seorang pria yang merupakan Interista sejati, Marco Materazzi. Dia mebuat aku merasa menjadi seorang 'Italia'. Terima kasih, saudaraku. Dengan harapan aku tak akan melupakan siapa pun. Terima kasih untuk semua," tutup Eto'o.

Melalui surat perpisahan itu, Eto'o telah membuat Interisti berduka atas kepergiannya. Namun pemain datang dan pergi. Pun dengan pria asal Kamerun itu. Ucapan dan doa pun mengiringi kepergian matan pemain Real Mallorca dan Barcelona itu ke Anzhi. Selama bermukim di Giuseppe Meazza, Eto'o sudah mencetak 53 gol dari 102 penampilan. Dan mengoleksi 6 gelar juara.

"Presiden Massimo Moratti dan semua orang di Inter mengucapkan selamat tinggal kepada Eto'o, setelah melalui dua musim luar biasa. Kami berharap Eto'o mendapat keberuntungan dan sukses dengan klub barunya," bunyi ucapan perpisahan Inter.


Arrivederci Samu...!

Friday, August 26, 2011

Preview Awal Musim Inter Milan

Jika tak mau kembali tertinggal dari AC Milan dalam hal perolehan Scudetto, La Beneamata harus segera berbenah. Saatnya mengembalikan harga diri.


Pada 2006 lalu, sepak bola Italia mengalami masa suram saat skandal calciopoli terkuak. Dua penguasa Serie-A saat itu, Juventus dan AC Milan terlibat di dalamnya. Keberuntungan memayungi Inter Milan. I Nerazzurri dinyatakan “bersih” dan terbebas dari hukuman. Sebuah vonis yang menjadi titik balik kejayaan La Beneamata di Italia, bahkan Eropa.

Sejak saat itu, Inter perkasa sebagai penguasa tunggal Italia. Terlepas dari scudetto “hibah” pada 2005-06, empat gelar beruntun mampu dikuasai skuad La Beneamata. Puncaknya saat tiga gelar, Serie-A, Coppa Italia, dan Liga Champions berhasil disandingkan allenatore Jose Mourinho pada musim 2009-10.

Akan tetapi, prestasi tertinggi itu justru menjadi penutup perjalanan manis La Beneamata selama empat tahun terakhir. Musim 2010-11, prestasi Inter terjun bebas. Meski masih mampu meraih gelar Piala Dunia Antarklub, dan Coppa Italia, Inter tetap dinilai gagal total. Alasannya adalah keberhasilan AC Milan, mengakhiri dominasi selama lebih dari empat tahun terakhir, sekaligus menyamai koleksi 18 scudetti milik Inter.

Kepergian Mourinho ke Real Madrid diyakini menjadi awal keterpurukkan Inter. Bagaimana tidak, dengan skuad yang relatif hampir sama, Rafael Benitez hingga Leonardo gagal menjaga mentalitas juara yang telah dibangun Lo Speciale. Sebuah pencapaian yang tentunya tidak diharapkan oleh sang presiden, Massimo Moratti.

Memasuki musim 2011-12, Inter berbenah. Langkah awal sudah dibuat. Gian Piero Gasperini didaulat sebagai pelatih baru menggantikan Leonardo yang hijrah ke Paris Saint-Germain. Di bawah era Gasperini, Moratti berharap mentalitas Inter bisa kembali terbentuk. Meski bukan masuk golongan pelatih kenamaan, Gasperini dipercaya bakal mengembalikan kejayaan I Nerazzurri.

“Saya memimpikan Liga Champions, meski juara Serie-A juga penting. Dan untuk meraihnya, saya akan menerapkan gaya yang di pakai sejak di Genoa. Permainan sepak bola saya adalah menyerang. Itu akan saya bawa ke skuad Inter,” ucap Gasperini.

Kehadiran Gasperini pun memunculkan optimisme di tubuh tim. Salah satunya mantan anak asuh semasa di Genoa, Diego Milito. “Dia pelatih hebat dan pantas mendapat pekerjaan di klub sebesar Inter. Di klub mana pun, dia menghadirkan hal yang positif. Aku pun antusias kami bisa memenuhi target bersama dia,” puji striker berjuluk El Principe itu.

Terkendala Amunisi

Kegagalan musim lalu menjadi pelajaran berharga yang wajib dicermati Inter. Evaluasi menyeluruh pun harus dilakukan. Bukan sekadar sistem kepelatihan, pun kebijakan dalam aktivitas transfer. Musim lalu, skuad Inter memang tidak terlalu gemuk. Tak heran saat pemain silih berganti naik ke meja perawatan, Inter kesulitan memainkan skema terbaik.

Sayangnya, Inter belum belajar dari kesalahan itu. Tak berbeda jauh dengan musim lalu, musim panas ini aktivitas transfer Inter masih sepi. Baru tiga pemain belia, Ricky Alvarez, Emiliano Viviano, dan Jonathan, yang didatangkan Inter. Sementara, mereka justru kehilangan beberapa pilar utama seperti Samuel Eto’o.

Kebijakan transfer Inter diyakini berhubungan erat dengan kondisi keuangan yang tengah kurang sehat. Hal itu memaksa Moratti mengambil langkah kurang popular, melepas aset-aset yang dianggap menguntungkan, termasuk menjual Eto’o. Dengan kondisi keuangan yang kurang stabil, kebijakan melepas pemain berbanderol mahal dan membeli pemain muda berharga murah dianggap sebagai langkah bijak.

Namun, segala situasi tersebut tetap tak menyurutkan optimisme skuad La Beneamata menyambut musim baru. “Seperti biasa, tim akan mengerahkan segala kemampuan. Kami punya skuad yang kompetitif dan akan mengerahkannya secara maksimal. Aku yakin kami bisa menjadi yang terbaik di Serie-A dan juga Liga Champions,” sebut Milito.

Sah-sah saja Milito dkk tetap menimbun keyakinan bisa merebut kembali scudetto dari tangan Milan. Namun, mereka juga tak bisa menutup mata melihat para pesaingnya seperti Milan, Juventus, AS Roma, Lazio, hingga Napoli terus menambah amunisi demi memperkuat tim. / @IrawanCobain


Evaluasi Pramusim: Masih sulit adaptasi

Bisa dibilang, langkah Inter Milan pada laga pramusim kurang begitu mulus. Setelah menghadapi perlawanan mudah dari dua tim lokal, Trentino Team dan Mezzocorona, Inter harus kesulitan meladeni tim-tim dengan kualitas setara. Sinyal bahaya bagi Inter yang meraih hasil kurang maksimal pada beberapa laga terakhir, termasuk di Dublin Super Cup.

Laga pramusim Inter sebenarnya baru dihitung saat menghadapi wakil Turki, Galatasaray. Pasalnya, menghadapi tim selevel, skema baru arahan sang allenatore, Gian Piero Gasperini mendapat ujian sesungguhnya. Setelah beradaptasi dengan pola utama 3-4-3, taktik Gasperini sempat dipuji saat mampu tampil apik ketika mengalahkan Celtic. Namun kembali dianggap masih cacat saat dibungkam tiga gol tanpa balas oleh Manchester City.

Beberapa penggawa Inter memang masih sedikit kesulitan mengimplementasikan taktik baru Gasperini. Apalagi, jalannya pramusim turut terganggu rumor transfer yang terus beredar. Pun beberapa pemain asal Amerika Selatan yang masih belum bisa bergabung karena harus mengikuti Copa America.

Meski hasil laga pramusim terkesan kurang meyakinkan, bagi Gasperini, banyak hal positif yang bisa diraih. Termasuk adaptasi dengan skema baru yang diterapkannya. “Seluruh pemain menunjukkan mereka mampu beradaptasi, dan tahu memposisikan diri, berdasarkan siapa lawan yang dihadapi. Dengan tempo dua minggu berlatih, jelas ini sinyal yang positif,” ucap Gasperini.

Ucapan Gasperini terbukti pada laga Piala Super Italia. Penampilan Inter mengalami kemajuan pesat. Dibanding saat bersua Man. City, performa La Beneamata memang cukup impresif, khususnya pada babak pertama. Sayang, titik lemah Inter masih sama, konsentrasi lini belakang yang masih mudah goyah.


Analisis strategi: Pola masih fleksibel

Musim ini, bayangan formasi yang akan digunakan Inter Milan sudah cukup jelas. Dengan menunjuk Gian Piero Gasperini, I Nerazzurri sudah siap memainkan pola tiga defender sejajar dalam skema 3-4-3. Formasi tersebut memang sudah biasa diterapkan sang allenatore sejak menukangi Genoa beberapa musim lalu.

Beberapa pihak mungkin masih meragukan proses adaptasi Inter bermain dengan pola baru tersebut. Apalagi, pada skema kali ini, Inter yang biasanya lebih sering mengandalkan serangan baik, kali ini dipaksa lebih berani memainkan ball-possessions.

Namun, memaksakan formasi tiga bek dan tiga penyerang ternyata dianggap bukan solusi instant. Sekian lama, Inter tidak terbiasa tampil dengan sistem tersebut. Terakhir kali memainkannya adalah ketika dilatih oleh Alberto Zaccheroni pada musim 2003-04. Itu pun tidak berakhir sukses.

Meski begitu, Gasperini dikenal fleksibel. Dia tidak melulu terpaku kepada formasi kegemaran. Strategi lain bisa dimainkan tergantung lawan yang dihadapi. Dalam beberapa kesempatan, Gasperini juga bisa menerapkan pola empat bek, ataupun hanya memainkan dua penyerang, dan menumpuk lima gelandang.

“Kami bermain dengan tiga defender jika lawan menurunkan dua penyerang. Jika tim lain memainkan tiga penyerang, maka kami bisa menempatkan empat bek. Isu mengenai pola baku 3-4-3 sudah bisa diselesaikan. Di skuad ini, setiap pemain setidaknya bisa memerankan dua posisi,” beber Gasperini.

Di sektor belakang, Inter memiliki stok cukup. Ada Walter Samuel, Lucio dan Andrea Ranocchia yang dianggap sebagai komposisi terbaik. Jika Samuel Eto’o jadi hengkang, Inter masih memiliki Giampaolo Pazzini dan Diego Milito yang bermain bergantian sebagai ujung tombak utama. Sementara Ricky Alvarez, Goran Pandev, dan Luc Castaignos bakal ditempatkan sebagai penyerang sayap.

Untuk sektor tengah, komposisi Inter lebih mumpuni. Dua gelandang bertipe pekerja keras akan didukung dua bek sayap yang bisa beralih fungsi sebagai wide midfielder. Keputusan memainkan dua gelandang bertipe pun dilakukan Gasperini demi menjaga keseimbangan lini tengahnya.

Taktik itu terbukti berhasil saat Inter mampu menguasai permainan pada babak pertama Piala Super Italia. Sayang, pergantian taktik yang dilakukan Gasperini pada babak kedua membuat Inter sedikit goyah. Toh, Inter hanya butuh waktu adaptasi. Seperti halnya yang dibutuhkan Massimiliano Allegri saat baru menukangi AC Milan musim lalu.


Formasi Inter:

1 Julio Cesar; 6 Lucio, 23 Ranocchia, 25 Samuel; 13 Maicon, 8 Thiago Motta, 10 Sneijder, 4 Zanetti; 11 Alvarez, 22 Milito, 27 Pandev

Subs: 12 Castelazzi, 2 Cordoba, 16 Caldirola, 41 Jonathan, 39 Santon, 37 Faraoni, 5 Stankovic, 19 Cambiasso, 20 Obi, 48 Crisetig, 7 Pazzini, 30 Castaignos


Thursday, July 21, 2011

Nerazzurri Mengentalkan Warna Tango

Inter kembali berkiblat ke Amerika Selatan pada bursa transfer musim panas ini. Talenta asal Argentina menjadi prioritas utama.

Sejak menunjuk Gian Piero Gasperini sebagai pelatih baru, Inter Milan langsung bergerak cepat di bursa transfer musim dingin. Gelandang Argentina, Ricardo “Ricky” Alvarez pun hadir sebagai rekrutan pertama mantan allenatore Genoa itu. Sementara, beberapa nama lain pun masih menunggu giliran. Menariknya, dalam daftar incaran La Beneamata, pemain dari Amerika Selatan, khususnya Argentina, menyumbang jumlah terbanyak.

Memang tidak dimungkiri sejarah panjang Inter tak bisa lepas dari peran para stranieri, khususnya yang berasal dari Argentina. Berbeda dengan rival sekotanya, AC Milan yang justru memiliki sejarah apik dengan stranieri asal Brasil, Inter di era kepemimpinan Presiden Massimo Moratti justru sangat kental dengan aroma Tango. Sebut saja beberapa nama populer seperti Kily Gonzalez, Gabriel Batistuta, Diego Simeone, Hernan Crespo, serta Julio Cruz. Sejak Moratti berkuasa, jumlah stranieri asal Argentina meningkat pesat.

Hingga kedatangan Alvarez, total Moratti sudah mengumpulkan 13 legiun asing asal Negeri Tanggo. Memang hanya berselisih satu dari jumlah stranieri Inter asal Brasil, namun dari segi prestasi, pemain-pemain Argentina koleksi Moratti lebih menonjol. Sembilan pemain tercatat pernah mengangkat trofi scudetto selama berkarier di Giuseppe Meazza. Sementara dari Brasil hanya tercatat hanya ada enam nama.

Puncak prestasi hadir saat Inter mampu meraih treble winner di era Javier Zanetti, Walter Samuel, Esteban Cambiasso, dan Diego Milito. Rekor positif tersebut kian membuat direksi Inter jatuh hati pada “penari-penari” Tango. Bahkan, kehadiran Gasperini di kursi pelatih pun tak lantas mengubah kebijakan Inter sebagai pengumpul stranieri di skuadnya.

Semula, Inter diperkirakan bakal mengubah pakem dengan lebih mengedepankan talenta-talenta lokal. Tak heran nama-nama seperti Riccardo Montolivo dan Domenico Criscito sempat masuk daftar buruan. Namun, pemikiran Gasperini beserta direksi Inter ternyata tak sesuai perkiraan banyak pihak. Buktinya, baru Emiliano Viviano pemain lokal yang didatangkan Inter musim panas ini.

ALVAREZ BUKAN YANG TERAKHIR

Fakta kalau Inter ingin mengembalikan kebijakan mengumpulkan stranieri asal Amerika Selatan, khususnya Argentina memang terlihat dalam aktivitas transfer musim panas ini. Selain Alvarez, masih ada empat pemain asal Negeri Tango lain yang diperkirakan bakal menyusul. Ever Banega berada di garda terdepan. Sementara lainnya Rodrigo Palacio (Genoa), hingga Carlos Tevez (Manchester City) masih berpeluang menyusul.

Sejak berhasil menjadi yang terbaik di Eropa dengan menjuarai Liga Champions pada musim 2009-10, Inter memang menjadi daya tarik bagi talenta-talenta muda. Khusus untuk generasi muda Argentina, kehadiran Zanetti juga menjadi magnet untuk menjadikan Giuseppe Meazza salah satu opsi terbaik menjajaki karier di Eropa.

Hal itu pula yang mendasari Alvarez menolak Arsenal dan AS Roma, sekaligus memilih bergabung dengan I Nerazzurri. “Tak mungkin menolak pinangan dari klub tempat Javier Zanetti bermain. Dia salah satu legenda sepak bola Argentina, dan panutan bagi pemain manapun,” bilang gelandang berusia 23 tahun itu.

Zanetti sendiri saat ini tengah dimanfaatkan untuk mendekati Tevez yang mengaku sudah tak betah bersama Man. City. Kebetulan, kedua pemain kini sama-sama tergabung bersama timnas Argentina yang berlaga di turnamen Copa America 2011. “Tentunya setiap klub menginginkan Tevez ada di dalam tim mereka. Kami baru memulai aktivitas pada bursa transfer, jadi masih aka nada kejutan-kejutan yang hadir,” sebut Zanetti.

Jika tiga buruan lain berhasil didapatkan, Inter berpeluang menyamai rekor koleksi stranieri Argentina terbanyak dalam satu musim pada dua musim berturut-turut, yakni 2005-06 dan 2006-07, dengan delapan pemain. Menariknya, pada dua musim itu pula Inter bangkit dari tidur panjang setelah 17 tahun tidak pernah merasakan mahkota juara.

Tak heran jika musim ini mereka kembali memulai revolusi dengan berusaha menggaet talenta-talenta asal Negeri Tango. Apalagi, setelah 5 tahun berkuasa, musim lalu mereka harus menyerahkan takhta Serie-A ke tangan sang rival, Milan. Dengan revolusi ala Argentina, bukan tidak mungkin Inter bisa mengulangi comeback seperti 2005-06 lalu. Apalagi, ketika itu Inter juga diarsiteki pelatih lokal, yakni Roberto Mancini. / @IrawanCobain

Pemain Argentina yang pernah berjaya di Inter:

Dari 18 koleksi scudetti yang dimiliki Inter, setidaknya ada 14 pemain asing asal Argentina yang turut berandil besar. Selain itu, beberapa lainnya juga pernah merasakan trofi-trofi juara lain seperti Coppa Italia hingga Liga Champions. Berikut “penari-penari” Tanggo yang pernah merasakan prestasi bersama Inter:

Attilio Demaria (1932-36, 1938-43): 1 Scudetti, 1 Mitropa Cup.

Felix Demaria (1932-34, 1934-35): 1 Mitropa Cup.

Humberto Maschio (1962-63): 1 Scudetti.

Marcelo Pagani (1962-63): 1 Scudetti

Ramon Diaz (1988-89): 1 Scudetti.

Javier Zanetti (1995-sekarang): 5 Scudetti, 4 Coppa Italia, 4 Supercoppa Italia, 1 Liga Champions, 1 UEFA Cup, 1 Piala Dunia Antarklub.

Hernan Crespo (2002-03, 2006-09): 3 Scudetti, 2 Supercoppa Italia.

Kily Gonzalez (2003-06): 1 Scudetti, 2 Coppa Italia, 1 Supercoppa Italia.

Julio Ricardo Cruz (2003-09): 4 Scudetti, 2 Coppa Italia, 3 Supercoppa Italia.

Juan Sebastian Veron (2004-06): 1 Scudetti, 2 Coppa Italia, 1 Supercoppa Italia.

Nicolas Burdisso (2004-09): 4 Scudetti, 2 Coppa Italia, 4 Supercoppa Italia.

Esteban Cambiasso (2005-sekarang): 5 Scudetti, 4 Coppa Italia, 4 Supercoppa Italia, 1 Liga Champions, 1 Piala Dunia Antarklub.

Walter Samuel (2005-sekarang): 5 Scudetti, 3 Coppa Italia, 4 Supercoppa Italia, 1 Liga Champions, 1 Piala Dunia Antarklub.

Santiago Solari (2005-08): 3 Scudetti, 1 Coppa Italia, 1 Supercoppa Italia

Mariano Gonzalez (2006-07): 1 Scudetti


Friday, July 8, 2011

Transformasi ala Gasperson

Pakem yang bakal diterapkan berpotensi memakan korban. Hanya ada dua pilihan, cabut atau menjadi cadangan abadi.


Pergantian pelatih pastinya bakal menampilkan warna berbeda dalam sebuah tim. Bukan sekadar dari cara meracik strategi, pun kebijakan dalam menerapkan komposisi pemain di tim tersebut. Termasuk menentukan pemain yang dibutuhkan, dan yang tidak terpakai. Kebijakan semacam itu pula yang akan hadir di Inter Milan menyambut musim 2011-12. Kedatangan Gian Piero Gasperini bakal membawa I Nerazzurri melalui fase transformasi yang cukup menonjol.

Meski datang tanpa torehan trofi, Inter tetap yakin Gasperini sosok yang tepat mengembalikan kejayaan, baik di kancah domestik maupun Eropa. Puja-puji sempat terlontar dari berbagai pihak terkait kualitas Gasperini. Bahkan, dia sempat mendapat panggilan, Gasperson, dari Presiden Genoa, Enrico Preziosi, karena dianggap sebagai Sir Alex Ferguson-nya Italia. Pujian juga hadir dari mantan pelatih Inter, Jose Mourinho. “Gasperini pelatih yang sering membuat saya kesulitan. Setiap saya mengganti taktik, dia mampu dengan cepat beradaptasi,” tutur Mourinho.

Bahkan, dari kubu sang rival, AC Milan, gelandang veteran, Gennaro Gattuso pun ikut melontarkan pujian. “Ketika mendengar Gasperini bergabung dengan Inter, aku tak menyukainya, karena dia pelatih dengan karakter menyerang. Dan, dengan pemain yang dimiliki Inter, Anda tentu harus khawatir dengan kualitas mereka,” puji Gattuso.

Di Giuseppe Meazza, Gasperini dipercaya bakal membawa warna baru dalam permainan Inter. Berbeda dengan beberapa pendahulunya seperti Mourinho, Rafael Benitez, atau Leonardo, Gasperini memiliki gaya permainan lebih menyerang. Pakem tiga bek serta tiga penyerang merupakan gambaran taktik ofensif yang kerap diperagakannya. “Dia selalu meminta pemain bertahan untuk ikut membantu serangan, dan mencoba menikmati itu,” bilang bek Inter yang juga mantan anak asuh Gasperini di Genoa, Andrea Ranocchia.

Semula, pola tiga bek yang menjadi andalan Gasperini dianggap tak akan cocok dengan Inter. Maklum, Inter yang belum terbiasa bermain dengan tiga bek kini harus mulai beradaptasi dengan wajah baru tersebut. Meski pada praktiknya Gasperini masih bisa bersikap fleksibel, termasuk kembali memainkan empat bek, pakem lama miliknya tentu akan lebih sering terlihat.

“Dia percaya dengan dua formasi yang berbeda, tetapi keduanya ditentukan dan memperhatikan detail, taktik, serta psikologis. Di Genoa, kadang kami bermain dengan empat bek, tetapi untuk itu butuh sesi latihan ekstra dalam sepekan,” sambung Ranocchia.

Satu hal yang pasti, taktik Gasperini tentu bakal memakan korban dari skuad Inter. Beberapa nama baru akan datang guna menyempurnakan strategi Gasperini, sementara pemain yang dianggap tidak cocok bakal tersisih. Ironisnya, ada beberapa nama besar yang berpeluang menjadi korban.

Sneijder Kehilangan Posisi


Sejauh ini, Inter dikaitkan dengan beberapa calon pendatang baru. Menariknya, sebagian besar berasal dari Amerika Selatan, dan merupakan pemain dengan karakter menyerang. Rodrigo Palacio (Genoa), Erik Lamela (River Plate), serta Ricky Alvarez (Velez Sarsfield) tiga nama yang berada di garda terdepan untuk segera berlabuh ke Appiano Gentile. Selain itu, ada juga nama-nama lain seperti Ever Banega (Valencia), Jonathan Cicero Moreira (Santos), ataupun Carlos Henrique Casemiro (Sao Paulo).

Palacio, Lamela, atau Alvarez dianggap sangat cocok dengan pola tiga penyerang yang kerap dimainkan Gasperini. Inter memang butuh inside-forward atau penyerang sayap yang memiliki akselerasi dan kemampuan menusuk dari kedua sisi lapangan. Untuk posisi ujung tombak utama, Gasperini sudah memiliki dua stok, Giampaolo Pazzini dan Diego Milito. Sementara Samuel Eto’o yang juga bisa berperan sebagai target man kemungkinan bakal kembali ke posisi awalnya di Inter, yakni sebagai penyerang sayap.

Dari beberapa pemain yang dianggap kurang cocok dengan formasi Gasperini, ada nama yang justru menjadi pilar Inter saat meraih treble winner pada musim 2009-10. Salah satunya Wesley Sneijder. Dua musim terakhir, peran Sneijder sangat vital dalam formasi 4-3-1-2 ataupun 4-2-3-1. Peran trequartista yang dimainkannya berjalan sempurna dalam formasi tersebut. Bahkan, pada era Mourinho, Inter seperti menemukan kembali puzzle yang hilang pada diri Sneijder.

Sayangnya, dari beberapa kemungkinan formasi yang bakal dimainkan Gasperini musim depan, Sneijder terancam kehilangan posisi favoritnya. Dalam formasi 3-4-3, 4-3-3, atau 3-5-2, tak ada ruang untuk Sneijder. Gasperini lebih suka memainkan dua hingga tiga gelandang petarung di lini tengah ketimbang memadukannya dengan seorang fantasista seperti Sneijder. Di posisi ini Gasperini mungkin bakal mengedepankan Esteban Cambiaso, Dejan Stankovic ataupun mantan anak asuhnya di Genoa, Thiago Motta.

Sementara, jika memainkan komposisi empat pemain tengah, dua di antaranya haruslah bertipe wing-back dengan kemampuan bertahan dan menyerang sama baiknya. Untuk pemain dengan kualitas seperti itu, Inter juga mempunyai Javier Zanetti, Maicon, serta Yuto Nagatomo.

Lalu di posisi mana Sneijder akan dimainkan? Jika Gasperini mau fleksibel, pola 3-4-1-2 mungkin sedikit cocok dengan Sneijder. Namun, alternatif lain adalah memainkan Sneijder tidak pada posisi favoritnya, yakni sebagai winger, seperti yang pernah dilakoninya di Real Madrid. Akan tetapi, alternatif kedua tentu bukanlah yang diinginkan Sneijder.

Sewaktu “dipaksa” bermain sebagai winger di Madrid, Sneijder memilih hengkang ke Inter. Dan, bukan tidak mungkin kejadian serupa bakal terulang musim panas ini. Apalagi klub seperti Manchester United ataupun Chelsea bisa menyediakan posisi favoritnya jika mau bergabung.

Menentukan posisi Sneijder menjadi salah satu pekerjaan rumah terberat yang harus dilakoni Gasperini menyambut musim baru. Jika bersikeras menerapkan pakemnya, Gasperini harus rela kehilangan Sneijder. Jika tidak, bekas pelatih tim junior Juventus itu harus mengulik lagi formasinya demi memberi porsi kepada Sneijder. @IrawanCobain


Mereka yang terancam

Bukan hanya Sneijder yang terancam kehilangan posisinya di skuad I Nerazzurri. Beberapa lainnya juga berpotensi tergeser. Ironisnya, mereka tergeser bukan karena tak punya kualitas untuk bersaing di skuad La Beneamata, Tapi, mereka sangat mungkin tersisih karena transformasi taktik yang bakal diterapkan Gian Piero Gasperini.

Alasan lainnya adalah kemungkinan Inter akivitas pada bursa transfer musim panas ini. Tentunya hal itu akan membuat pemain yang dianggap tidak cocok dengan karakter Gasperini akan tersisih dari skuad.

Berikut beberapa nama yang terancam terbuang karena tak sesuai dengan taktik Gasperini:


Lini belakang:

  • Ivan Cordoba (34 tahun)

Kontrak sampai: 30 Juni 2012

Peluang tersisih: 50%

Keterangan: Usia yang mulai uzur menjadi salah satu faktor yang membuat Ivan Cordoba semakin kehilangan porsi bermain dalam beberapa musim terakhir. Di bawah asuhan Gian Piero Gasperini, posisi tiga bek utama diyakini bakal diberikan kepada Lucio, Andrea Ranocchia, dan Walter Samuel. Posisi Cordoba pun kian tergerus. Jika memutuskan tetap bertahan, Cordoba bakal menjadi cadangan abadi di skuad Inter.


  • Cristian Chivu (30 tahun)

Kontrak sampai: 30 Juni 2012

Peluang tersingkir: 40%

Keterangan: Meski kerap melakukan blunder pada musim lalu, kemampuan Cristian Chivu masih dibutuhkan oleh Inter. Namun, dengan posisi asli sebagai bek kiri, peran Chivu akan tergerus dalam formasi tiga bek yang diterapkan Gasperini. Jika bermain sebagai bek tengah, dia harus bersaing dengan Lucio, Samuel, dan Ranocchia. Sementara sebagai wing-back kiri, agresivitas menyerang Chivu tak sebaik Yuto Nagatomo.

Lini tengah:

  • Sulley Muntari (26 tahun)

Kontrak sampai: 30 Juni 2012

Peluang tersingkir: 50%

Keterangan: Gelandang asal Ghana ini sebenarnya masih memiliki peluang di era Gian Piero Gasperini. Akan tetapi, kemungkinan terbesar dia hanya akan menjadi pelapis Thiago Motta, Esteban Cambiasso, hingga Dejan Stankovic. Kondisi itu membuat Muntari lebih mempertimbangkan hengkang dari Giuseppe Meazza. Apalagi beberapa klub Eropa dan Amerika Serikat juga masih berminat mendatangkannya.


  • McDonald Mariga (24 tahun)

Kontrak sampai: 30 Juni 2013

Peluang tersingkir: 60%

Keterangan: Mariga merupakan salah satu pemain yang hampir pasti terdepak dari skuad Inter. Sejak didatangkan pada Januari 2010, gelandang asal Kenya itu memang hanya berstatus sebagai alternatif terakhir di lini tengah. Musim panas ini, rumor transfer yang melibatkan Mariga terus bergulir. Salah satunya dengan menjadikan dia sebagai tambahan transfer untuk striker Genoa, Rodrigo Palacio.

Lini depan:

  • Goran Pandev (27 tahun)

Kontrak sampai: 30 Juni 2014

Peluang tersingkir: 40%

Keterangan: Sejatinya posisi Pandev sangat cocok dengan gaya bermain Gasperini. Striker asal Macedonia itu juga mampu bermain apik sebagai penyerang sayap. Sayang, penampilan Pandev terus menurun dalam semusim terakhir. Faktor itu membuat namanya mulai dipertimbangkan dilepas Inter. Apalagi, Genoa sudah menyatakan hanya akan melepas pemain incaran Inter, Rodrigo Palacio dengan barter Pandev.


  • Philippe Coutinho (19 tahun)

Kontrak sampai: 30 Juni 2015

Peluang tersingkir: 40%

Keterangan: Kesan pertama yang dihadirkan Coutinho pada musim pertamanya ternyata belum memuaskan dua pelatih terdahulu. Musim panas ini, jika Inter jadi mendatangkan Rodrigo Palacio, Ricky Alvarez, atau Erik Lamela, posisi penyerang belia asal Brasil itu akan semakin tersisih. Opsi peminjaman atau melepas dengan klausul buy-back mungkin bakal dilakukan Inter untuk memberinya pengalaman bermain.

Monday, June 27, 2011

Julio Cesar vs Emiliano Viviano: Dibuang sayang


Rumor transfer di tubuh Inter Milan terus bergulir. Dari mulai striker Udinese, Alexis Sanchez, hingga bintang Real Madrid asal Brasil, Kaka. Namun, isu paling menarik justru muncul dari pos di bawah mistar. Setelah perannya sebagai kiper utama Inter tak tergantikan selama lebih dari lima tahun, kini posisi Julio Cesar mulai digoyang. Aktornya adalah kiper muda timnas Italia, Emiliano Viviano.

Bermodal penampilan apik selama dua musim bersama Bologna, nama Viviano mulai mencuat ke jajaran calon kiper masa depan Gli Azzurri. Bahkan, selama Gianluigi Buffon absen, kiper berusia 25 tahun itu mulai dipercaya pelatih timnas Italia, Cesare Prandelli untuk tampil sebagai starter. Sejak debutnya pada September 2010 lalu status sebagai kiper kedua Italia setelah Buffon masih mampu dipertahankan Viviano.

Performa yang ditunjukkan Viviano membuat banyak klub di Italia terpikat. Dari sekian banyak klub yang meminatinya, Inter berada di garda terdepan, hingga beruntung dapat merekrutnya kembali. Pasalnya, La Beneamata kini berhasil merebut sepenuhnya hak kepemilikan Viviano dari Bologna. Kesalahan Bologna dalam mengisi formulir aplikasi lelang tertututp membuat Viviano otomatis menjadi milik Inter.

Akan tetapi, justru di situ letak kebimbangan Inter. Meski potensi yang dimiliki Viviano sangat sayang untuk disia-siakan, untuk saat ini Inter tak memiliki kesempatan besar memanfaatkan kualitas Viviano. Pasalnya, di bawah mistar gawang I Nerazzurri masih bercokol salah satu kiper terbaik dunia, Julio Cesar. Tentunya akan sangat sulit bagi Viviano menggeser posisi kiper asal Brasil itu.

Hal itu diakui sendiri oleh Viviano. “Jika Julio Cesar masih berada di Inter, mereka tak akan bisa memilikiku juga. Meski aku menolak anggapan yang menyebut aku enggan berada di bawah bayang-bayang Cesar. Bologna dan Inter perlu bicara, dan kupikir solusi akan bisa ditemukan,” sebut Viviano.

Dengan sederet prestasinya di Inter, Cesar masih menjadi salah satu kiper terbaik di dunia. Tentunya Inter tak mau berspekulasi melepas Cesar demi mendatangkan Viviano ke Appiano Gentile. Walau begitu, Viviano masih memiliki celah untuk bisa mengawal mistar gawang Inter.

Ingat dengan pamor Viviano yang kian menanjak, posisi Inter sangat riskan. Beberapa klub besar Eropa seperti Arsenal, AS Roma, Genoa dan Lazio juga terus mengintip peluang mendatangkan Viviano. Bahkan, kiper yang mengawali karier profesionalnya bersama Brescia itu pun sudah mengisyaratkan siap melupakan peluang bermain bersama Inter demi karier bersama klub besar lain.

“Aku sadar menolak berbagai tawaran tak akan mudah. Aku juga mempertimbangkan ketertarikan dari Roma ataupun Genoa. Namun, pertama-tama aku harus menyelesaikan urusan statusku bersama Inter. Kalau memungkinkan, aku pun siap pindah dengan status pinjaman,” beber Viviano.

Dengan Cesar yang sudah memasuki usia senja dan rentan cedera, agaknya semakin memberatkan Inter untuk mempertimbangkan posisi Viviano. Namun, bisa juga langkah lebih bijak akan diambil Inter. Salah satunya dengan meminjamkan Viviano ke klub lain, sambil menunggu kontrak Cesar yang akan habis pada 2014 mendatang.

Ketika waktu itu tiba, Viviano akan memasuki umur keemasan bagi seorang kiper dan semakin matang untuk diberi kepercayaan menjaga gawang Inter. (@IrawanCobain)

Julio Cesar
Usia: 31 tahun
Asal Negara: Brasil
Tinggi/Berat: 186 cm/79 kg
Penampilan musim 2010/11:
Serie-A: 25 kali main (kebobolan 21 gol)
Coppa Italia: 3 kali main (kebobolan 2 gol)
Liga Champions: 7 kali main (kebobolan 15 gol)

Emiliano Viviano
Usia: 25 tahun
Asal Negara: Italia
Tinggi/Berat: 195 cm/89 kg
Penampilan musim 2010/11:
Serie-A: 38 kali (kebobolan 52 gol)

Tuesday, June 14, 2011

NAPOLI: Akhir penantian 21 tahun


Sesaat setelah peluit panjang tanda berakhirnya pertandingan antara Napoli vs Inter Milan dibunyikan, kegembiraan pecah di Stadion San Paolo. Kembang api, bom asap, serta nyanyian ‘O Suldato Innamurato’ berkumandang di seantero stadion.

Seluruh tifosi Napoli atau yang akrab disebut Neapolitan larut dalam euforia menyambut kepastian lolos ke Liga Champions musim depan. Keberhasilan meraih satu angka dari Inter membuat I Partenopei berhak atas tiket otomatis ke kompetisi tertinggi antarklub Eropa itu.

Para Neapolitan pantas bergembira. Pasalnya sudah cukup lama Napoli tak merasakan atmosfer Liga Champions. Terakhir kali berlaga di Liga Champions adalah 21 tahun silam atau pada 1990 usai menjuarai Serie-A musim 1989-90.

“Terima kasih kepada semua orang yang bekerja bersama tim, menciptakan suasana harmonis, dan membantu para pemain menampilkan yang terbaik,” ucap pelatih Napoli, Walter Mazzarri.

Tak bisa dipungkiri, selain beberapa pemain kunci seperti Edinson Cavani, Ezequiel Lavezzi, atau Marek Hamsik, sang allenatore, Mazzarri juga laik diberi kredit lebih atas pencapaian Napoli kali ini. Tangan dingin Mazzarri berpengaruh besar membentuk Napoli menjadi kekuatan solid di Italia.

Mantan pelatih Sampdoria ini pun mampu mempertahankan konsistensi tim sepanjang musim. Hal yang tidak dimiliki beberapa tim besar seperti Lazio, AS Roma, dan Juventus.

“Terima kasih kepada Mazzarri dan skuadnya yang telah membawa kami meraih poin ini. Juga terima kasih kepada fans yang telah setia mendukung kami melalui masa-masa sulit. Cara kalian memberi dukungan kepada tim ini membuat rakyat Naples bangga, dan kalian merupakan elemen penting yang kami miliki,” ucap Presiden Napoli, Aurelio De Laurentiis yang tak bisa menyembunyikan kegembiraannya. / @IrawanCobain

SAMPDORIA: Hujan Tangis di Luigi Ferraris

Bukan hanya kiprah sembilan tahun di Serie-A yang terhenti, Il Blucerchiati juga terancam eksodus pemain.


Di sela-sela tulisan tentang Inter Milan, sedikit saya sisipkan kisah tragis salah satu klub besar di Italia, Sampdoria. Kenapa saya menggolongkan Il Samp sebagai salah satu klub besar? Prestasi berkata demikian. Satu gelar Scudetti, 4 Coppa Italia, 1 Winner Cup, serta sekali menjadi runner-up Piala Champions sudah cukup membuat Sampdoria laik disejajarkan dengan klub-klub besar di Negeri Pizza. Namun, kini Il Blucerchiati harus merasakana kenyataan pahit. Turun kasta ke Serie-B!

Raut kesedihan hadir di Stadion Luigi Ferraris sesaat setelah wasit Paolo Mazzoleni meniupkan peluit panjang. Seluruh skuad Sampdoria tertunduk lesu menyambut kekalahan 1-2 dari Palermo. Bahkan, Il Capitano, Angelo Palombo pun tak mampu menahan isak tangis di hadapan seluruh tifosi Il Blucerchiati. Kekalahan dari Palermo resmi mengakhiri perjalanan Sampdoria selama sembilan tahun di kancah Serie-A. Musim depan, mereka turun kasta ke Serie-B.

Keterpurukan Sampdoria kali ini antiklimaks dari pencapaian apik musim lalu. Pada musim 2009-10 mereka mampu finis di urutan keempat klasemen dan berhak merebut satu tiket ke babak kualifikasi Liga Champions. Hasil buruk ini wajib membuat petinggi Sampdoria melakukan evaluasi. Pasalnya, musim ini mereka melakukan sejumlah blunder besar.

Diawali dengan kepergian sang allenatore, Luigi Del Neri ke Juventus. Sampdoria ibarat kapal yang kehilangan nakhoda. Domenico Di Carlo yang masuk menggantikan Del Neri gagal menjaga keharmonisan tim. Puncaknya, perseteruan Antonio Cassano dengan presiden klub, Riccardo Garrone yang berakhir dengan kepindahan sang pemain ke AC Milan.

Tak berselang lama, striker Giampaolo Pazzini menyusul Cassano keluar dari Luigi Ferraris dan pindah ke Inter Milan. Kepergian Del Neri, Cassano, dan Pazzini menjadi serangkaian blunder Sampdoria. Dampaknya sepanjang 2011 Sampodoria hanya mampu meraih tiga kemenangan dari 21 laga. Masuknya Alberto Cavasin sebagai pengganti Di Carlo pun tak banyak membantu. Kini, Garrone pun harus memikul tanggung jawab penuh atas kebijakan-kebijakan yang justru mengantarkan Sampdoria ke jurang degradasi.

“Ini momen yang menyedihkan, dan tak pantas dirasakan para tifosi. Serangkaian kesalahan kami lakukan dan hal itu harus dievaluasi. Kami bertanggung jawab penuh, tapi juga menegaskan komitmen terhadap Sampdoria. Sekarang saatnya membersihkan ‘rumah’ dan membangun kembali kekuatan tim agar secepatnya bisa kembali ke Serie-A,” sesal putra Presiden Sampdoria, Edoardo Garrone.

MEMBUKA LEMBARAN BARU

Sebagai pemimpin klub, Riccardo Garrone jelas memikul tanggung jawab moral untuk membawa kembali Sampdoria ke Serie-A. “Saya melihat sebuah spanduk yang dibentangkan tifosi, meminta kami mengembalikan kejayaan Sampdoria. Dan itu menjadi janji kita. Saya sangat menghargai apresiasi dan sikap positif yang ditunjukkan fans hari ini. Karena itu, mereka tak pantas menerima kekecewaan ini,” tegas Garrone sembari berjanji akan membawa timnya promosi ke Serie-A secepatnya.

Kendati berjanji bakal secepat mungkin membawa Sampdoria kembali ke Serie-A, agaknya Garrone tak mampu menghindari efek dari penurunan kasta ke Serie-B. Salah satunya adalah ancaman bakal terjadinya eksodus besar-besaran di tubuh I Bluccerchiati.

Sejumlah pemain berpotensi besar meninggalkan Sampdoria. Meski tak terdapat nama besar lagi di Luigi Ferraris, beberapa pemain terbilang masih laik tampil di Serie-A ataupun kompetisi level atas Eropa lain. Sebagai langganan timnas Italia, Angelo Palombo dan gelandang muda, Andrea Poli pun harus berpikir dua kali untuk setia berbaju Sampdoria jika tak mau peluang berlaga di Euro 2012 hilang.

Akan tetapi, ancaman eksodus para pemain utama itu tak lantas membuat skuad Sampdoria bakal melemah di Serie-B musim depan. Hal serupa pernah terjadi pada 1998-99 lalu di mana mereka kehilangan Vincenco Montella ketika terdegradasi ke Serie-B. Sampdoria justru menemukan pahlawan baru, Francesco Flachi.

Pengalaman 11 tahun silam bisa saja kembali dirasakan Il Samp. Pemain seperti Nicola Pozzi, ataupun youngster asal Spanyol, Pedro bisa dioptimalkan untuk menjadi pahlawan baru. Tentu dengan syarat, petinggi Sampdoria bisa memanfaatkan Serie-B sebagai kawah candradimuka para pemain muda mereka. / @IrawanCobain


Prediksi pemain Sampdoria yang bakal keluar:

Lini belakang
Reto Ziegler
Gianluca Curci

Lini tengah
Andrea Poli
Angelo Palombo
Stefano Guberti
Franco Semioli
Daniele Mannini

Lini depan
Jonathan Biabiany
Massimo Maccarone

In Memoriam: Giacinto Facchetti

In Memoriam: Giacinto Facchetti