
Some of us only seen in Black and Blue. Dedicated to all Interista in Indonesia. :)


Pada 2006 lalu, sepak bola Italia mengalami masa suram saat skandal calciopoli terkuak. Dua penguasa Serie-A saat itu, Juventus dan AC Milan terlibat di dalamnya. Keberuntungan memayungi Inter
Sejak saat itu, Inter perkasa sebagai penguasa tunggal Italia. Terlepas dari scudetto “hibah” pada 2005-06, empat gelar beruntun mampu dikuasai skuad La Beneamata. Puncaknya saat tiga gelar, Serie-A, Coppa Italia, dan Liga Champions berhasil disandingkan allenatore Jose Mourinho pada musim 2009-10.
Akan tetapi, prestasi tertinggi itu justru menjadi penutup perjalanan manis La Beneamata selama empat tahun terakhir. Musim 2010-11, prestasi Inter terjun bebas. Meski masih mampu meraih gelar Piala Dunia Antarklub, dan Coppa Italia, Inter tetap dinilai gagal total. Alasannya adalah keberhasilan AC Milan, mengakhiri dominasi selama lebih dari empat tahun terakhir, sekaligus menyamai koleksi 18 scudetti milik Inter.
Kepergian Mourinho ke Real Madrid diyakini menjadi awal keterpurukkan Inter. Bagaimana tidak, dengan skuad yang relatif hampir sama, Rafael Benitez hingga Leonardo gagal menjaga mentalitas juara yang telah dibangun Lo Speciale. Sebuah pencapaian yang tentunya tidak diharapkan oleh sang presiden, Massimo Moratti.
Memasuki musim 2011-12, Inter berbenah. Langkah awal sudah dibuat. Gian Piero Gasperini didaulat sebagai pelatih baru menggantikan Leonardo yang hijrah ke Paris Saint-Germain. Di bawah era Gasperini, Moratti berharap mentalitas Inter bisa kembali terbentuk. Meski bukan masuk golongan pelatih kenamaan, Gasperini dipercaya bakal mengembalikan kejayaan I Nerazzurri.
“Saya memimpikan Liga Champions, meski juara Serie-A juga penting. Dan untuk meraihnya, saya akan menerapkan
Kehadiran Gasperini pun memunculkan optimisme di tubuh tim. Salah satunya mantan anak asuh semasa di Genoa, Diego Milito. “Dia pelatih hebat dan pantas mendapat pekerjaan di klub sebesar Inter. Di klub mana pun, dia menghadirkan hal yang positif. Aku pun antusias kami bisa memenuhi target bersama dia,” puji striker berjuluk El Principe itu.
Terkendala Amunisi
Kegagalan musim lalu menjadi pelajaran berharga yang wajib dicermati Inter. Evaluasi menyeluruh pun harus dilakukan. Bukan sekadar sistem kepelatihan, pun kebijakan dalam aktivitas transfer. Musim lalu, skuad Inter memang tidak terlalu gemuk. Tak heran saat pemain silih berganti naik ke meja perawatan, Inter kesulitan memainkan skema terbaik.
Sayangnya, Inter belum belajar dari kesalahan itu. Tak berbeda jauh dengan musim lalu, musim panas ini aktivitas transfer Inter masih sepi. Baru tiga pemain belia, Ricky Alvarez, Emiliano Viviano, dan Jonathan, yang didatangkan Inter. Sementara, mereka justru kehilangan beberapa pilar utama seperti Samuel Eto’o.
Kebijakan transfer Inter diyakini berhubungan erat dengan kondisi keuangan yang tengah kurang sehat. Hal itu memaksa Moratti mengambil langkah kurang popular, melepas aset-aset yang dianggap menguntungkan, termasuk menjual Eto’o. Dengan kondisi keuangan yang kurang stabil, kebijakan melepas pemain berbanderol mahal dan membeli pemain muda berharga murah dianggap sebagai langkah bijak.
Namun, segala situasi tersebut tetap tak menyurutkan optimisme skuad La Beneamata menyambut musim baru. “Seperti biasa, tim akan mengerahkan segala kemampuan. Kami punya skuad yang kompetitif dan akan mengerahkannya secara maksimal. Aku yakin kami bisa menjadi yang terbaik di Serie-A dan juga Liga Champions,” sebut Milito.
Sah-sah saja Milito dkk tetap menimbun keyakinan bisa merebut kembali scudetto dari tangan

Bisa dibilang, langkah Inter Milan pada laga pramusim kurang begitu mulus. Setelah menghadapi perlawanan mudah dari dua tim lokal, Trentino Team dan Mezzocorona, Inter harus kesulitan meladeni tim-tim dengan kualitas setara. Sinyal bahaya bagi Inter yang meraih hasil kurang maksimal pada beberapa laga terakhir, termasuk di Dublin Super Cup.
Laga pramusim Inter sebenarnya baru dihitung saat menghadapi wakil Turki, Galatasaray. Pasalnya, menghadapi tim selevel, skema baru arahan sang allenatore, Gian Piero Gasperini mendapat ujian sesungguhnya. Setelah beradaptasi dengan pola utama
Beberapa penggawa Inter memang masih sedikit kesulitan mengimplementasikan taktik baru Gasperini. Apalagi, jalannya pramusim turut terganggu rumor transfer yang terus beredar. Pun beberapa pemain asal Amerika Selatan yang masih belum bisa bergabung karena harus mengikuti Copa
Meski hasil laga pramusim terkesan kurang meyakinkan, bagi Gasperini, banyak hal positif yang bisa diraih. Termasuk adaptasi dengan skema baru yang diterapkannya. “Seluruh pemain menunjukkan mereka mampu beradaptasi, dan tahu memposisikan diri, berdasarkan siapa lawan yang dihadapi. Dengan tempo dua minggu berlatih, jelas ini sinyal yang positif,” ucap Gasperini.
Ucapan Gasperini terbukti pada laga Piala Super Italia. Penampilan Inter mengalami kemajuan pesat. Dibanding saat bersua
Analisis strategi: Pola masih fleksibel
Musim ini, bayangan formasi yang akan digunakan Inter Milan sudah cukup jelas. Dengan menunjuk Gian Piero Gasperini, I Nerazzurri sudah siap memainkan pola tiga defender sejajar dalam skema
Beberapa pihak mungkin masih meragukan proses adaptasi Inter bermain dengan pola baru tersebut. Apalagi, pada skema kali ini, Inter yang biasanya lebih sering mengandalkan serangan baik, kali ini dipaksa lebih berani memainkan ball-possessions.
Namun, memaksakan formasi tiga bek dan tiga penyerang ternyata dianggap bukan solusi instant. Sekian lama, Inter tidak terbiasa tampil dengan sistem tersebut. Terakhir kali memainkannya adalah ketika dilatih oleh Alberto Zaccheroni pada musim 2003-04. Itu pun tidak berakhir sukses.
Meski begitu, Gasperini dikenal fleksibel. Dia tidak melulu terpaku kepada formasi kegemaran. Strategi lain bisa dimainkan tergantung lawan yang dihadapi. Dalam beberapa kesempatan, Gasperini juga bisa menerapkan pola empat bek, ataupun hanya memainkan dua penyerang, dan menumpuk
“Kami bermain dengan tiga defender jika lawan menurunkan dua penyerang. Jika tim lain memainkan tiga penyerang, maka kami bisa menempatkan empat bek. Isu mengenai pola
Di sektor belakang, Inter memiliki stok cukup. Ada Walter Samuel, Lucio dan Andrea Ranocchia yang dianggap sebagai komposisi terbaik. Jika Samuel Eto’o jadi hengkang, Inter masih memiliki Giampaolo Pazzini dan Diego Milito yang bermain bergantian sebagai ujung tombak utama. Sementara Ricky Alvarez, Goran Pandev, dan Luc Castaignos bakal ditempatkan sebagai penyerang sayap.
Untuk sektor tengah, komposisi Inter lebih mumpuni. Dua gelandang bertipe pekerja keras akan didukung dua bek sayap yang bisa beralih fungsi sebagai wide midfielder. Keputusan memainkan dua gelandang bertipe pun dilakukan Gasperini demi menjaga keseimbangan lini tengahnya.
Taktik itu terbukti berhasil saat Inter mampu menguasai permainan pada babak pertama Piala Super Italia. Sayang, pergantian taktik yang dilakukan Gasperini pada babak kedua membuat Inter sedikit goyah. Toh, Inter hanya butuh waktu adaptasi. Seperti halnya yang dibutuhkan Massimiliano Allegri saat baru menukangi AC Milan musim lalu.
Formasi Inter:
1 Julio Cesar; 6 Lucio, 23 Ranocchia, 25 Samuel; 13 Maicon, 8 Thiago Motta, 10 Sneijder, 4 Zanetti; 11 Alvarez, 22 Milito, 27 Pandev
Subs: 12 Castelazzi, 2 Cordoba, 16 Caldirola, 41 Jonathan, 39 Santon, 37 Faraoni, 5 Stankovic, 19 Cambiasso, 20 Obi, 48 Crisetig, 7 Pazzini, 30 Castaignos

Memang tidak dimungkiri sejarah panjang Inter tak bisa lepas dari peran para stranieri, khususnya yang berasal dari Argentina. Berbeda dengan rival sekotanya, AC Milan yang justru memiliki sejarah apik dengan stranieri asal Brasil, Inter di era kepemimpinan Presiden Massimo Moratti justru sangat kental dengan aroma Tango. Sebut saja beberapa nama populer seperti Kily Gonzalez, Gabriel Batistuta, Diego Simeone, Hernan Crespo, serta Julio Cruz. Sejak Moratti berkuasa, jumlah stranieri asal Argentina meningkat pesat.
Hingga kedatangan Alvarez, total Moratti sudah mengumpulkan 13 legiun asing asal Negeri Tanggo. Memang hanya berselisih satu dari jumlah stranieri Inter asal Brasil, namun dari segi prestasi, pemain-pemain Argentina koleksi Moratti lebih menonjol. Sembilan pemain tercatat pernah mengangkat trofi scudetto selama berkarier di Giuseppe Meazza. Sementara dari Brasil hanya tercatat hanya ada enam nama.
Puncak prestasi hadir saat Inter mampu meraih treble winner di era Javier Zanetti, Walter Samuel, Esteban Cambiasso, dan Diego Milito. Rekor positif tersebut kian membuat direksi Inter jatuh hati pada “penari-penari” Tango. Bahkan, kehadiran Gasperini di kursi pelatih pun tak lantas mengubah kebijakan Inter sebagai pengumpul stranieri di skuadnya.
Semula, Inter diperkirakan bakal mengubah pakem dengan lebih mengedepankan talenta-talenta lokal. Tak heran nama-nama seperti Riccardo Montolivo dan Domenico Criscito sempat masuk daftar buruan. Namun, pemikiran Gasperini beserta direksi Inter ternyata tak sesuai perkiraan banyak pihak. Buktinya, baru Emiliano Viviano pemain lokal yang didatangkan Inter musim panas ini.
ALVAREZ BUKAN YANG TERAKHIR

Fakta kalau Inter ingin mengembalikan kebijakan mengumpulkan stranieri asal Amerika Selatan, khususnya Argentina memang terlihat dalam aktivitas transfer musim panas ini. Selain Alvarez, masih ada empat pemain asal Negeri Tango lain yang diperkirakan bakal menyusul. Ever Banega berada di garda terdepan. Sementara lainnya Rodrigo Palacio (Genoa), hingga Carlos Tevez (Manchester City) masih berpeluang menyusul.
Sejak berhasil menjadi yang terbaik di Eropa dengan menjuarai Liga Champions pada musim 2009-10, Inter memang menjadi daya tarik bagi talenta-talenta muda. Khusus untuk generasi muda Argentina, kehadiran Zanetti juga menjadi magnet untuk menjadikan Giuseppe Meazza salah satu opsi terbaik menjajaki karier di Eropa.
Hal itu pula yang mendasari Alvarez menolak Arsenal dan AS Roma, sekaligus memilih bergabung dengan I Nerazzurri. “Tak mungkin menolak pinangan dari klub tempat Javier Zanetti bermain. Dia salah satu legenda sepak bola Argentina, dan panutan bagi pemain manapun,” bilang gelandang berusia 23 tahun itu.
Zanetti sendiri saat ini tengah dimanfaatkan untuk mendekati Tevez yang mengaku sudah tak betah bersama Man. City. Kebetulan, kedua pemain kini sama-sama tergabung bersama timnas Argentina yang berlaga di turnamen Copa America 2011. “Tentunya setiap klub menginginkan Tevez ada di dalam tim mereka. Kami baru memulai aktivitas pada bursa transfer, jadi masih aka nada kejutan-kejutan yang hadir,” sebut Zanetti.
Jika tiga buruan lain berhasil didapatkan, Inter berpeluang menyamai rekor koleksi stranieri Argentina terbanyak dalam satu musim pada dua musim berturut-turut, yakni 2005-06 dan 2006-07, dengan delapan pemain. Menariknya, pada dua musim itu pula Inter bangkit dari tidur panjang setelah 17 tahun tidak pernah merasakan mahkota juara.
Tak heran jika musim ini mereka kembali memulai revolusi dengan berusaha menggaet talenta-talenta asal Negeri Tango. Apalagi, setelah 5 tahun berkuasa, musim lalu mereka harus menyerahkan takhta Serie-A ke tangan sang rival, Milan. Dengan revolusi ala Argentina, bukan tidak mungkin Inter bisa mengulangi comeback seperti 2005-06 lalu. Apalagi, ketika itu Inter juga diarsiteki pelatih lokal, yakni Roberto Mancini. / @IrawanCobain

Pemain Argentina yang pernah berjaya di Inter:
Dari 18 koleksi scudetti yang dimiliki Inter, setidaknya ada 14 pemain asing asal Argentina yang turut berandil besar. Selain itu, beberapa lainnya juga pernah merasakan trofi-trofi juara lain seperti Coppa Italia hingga Liga Champions. Berikut “penari-penari” Tanggo yang pernah merasakan prestasi bersama Inter:
• Attilio Demaria (1932-36, 1938-43): 1 Scudetti, 1 Mitropa Cup.
• Felix Demaria (1932-34, 1934-35): 1 Mitropa Cup.
• Humberto Maschio (1962-63): 1 Scudetti.
• Marcelo Pagani (1962-63): 1 Scudetti
• Ramon Diaz (1988-89): 1 Scudetti.
• Javier Zanetti (1995-sekarang): 5 Scudetti, 4 Coppa Italia, 4 Supercoppa Italia, 1 Liga Champions, 1 UEFA Cup, 1 Piala Dunia Antarklub.
• Hernan Crespo (2002-03, 2006-09): 3 Scudetti, 2 Supercoppa Italia.
• Kily Gonzalez (2003-06): 1 Scudetti, 2 Coppa Italia, 1 Supercoppa Italia.
• Julio Ricardo Cruz (2003-09): 4 Scudetti, 2 Coppa Italia, 3 Supercoppa Italia.
• Juan Sebastian Veron (2004-06): 1 Scudetti, 2 Coppa Italia, 1 Supercoppa Italia.
• Nicolas Burdisso (2004-09): 4 Scudetti, 2 Coppa Italia, 4 Supercoppa Italia.
• Esteban Cambiasso (2005-sekarang): 5 Scudetti, 4 Coppa Italia, 4 Supercoppa Italia, 1 Liga Champions, 1 Piala Dunia Antarklub.
• Walter Samuel (2005-sekarang): 5 Scudetti, 3 Coppa Italia, 4 Supercoppa Italia, 1 Liga Champions, 1 Piala Dunia Antarklub.
• Santiago Solari (2005-08): 3 Scudetti, 1 Coppa Italia, 1 Supercoppa Italia
• Mariano Gonzalez (2006-07): 1 Scudetti



Mereka yang terancam
Bukan hanya Sneijder yang terancam kehilangan posisinya di skuad I Nerazzurri. Beberapa lainnya juga berpotensi tergeser. Ironisnya, mereka tergeser bukan karena tak punya kualitas untuk bersaing di skuad La Beneamata, Tapi, mereka sangat mungkin tersisih karena transformasi taktik yang bakal diterapkan Gian Piero Gasperini.
Alasan lainnya adalah kemungkinan Inter akivitas pada bursa transfer musim panas ini. Tentunya hal itu akan membuat pemain yang dianggap tidak cocok dengan karakter Gasperini akan tersisih dari skuad.
Berikut beberapa nama yang terancam terbuang karena tak sesuai dengan taktik Gasperini:
Lini belakang:

Kontrak sampai: 30 Juni 2012
Peluang tersisih: 50%
Keterangan: Usia yang mulai uzur menjadi salah satu faktor yang membuat Ivan Cordoba semakin kehilangan porsi bermain dalam beberapa musim terakhir. Di bawah asuhan Gian Piero Gasperini, posisi tiga bek utama diyakini bakal diberikan kepada Lucio, Andrea Ranocchia, dan Walter Samuel. Posisi Cordoba pun kian tergerus. Jika memutuskan tetap bertahan,

Kontrak sampai: 30 Juni 2012
Peluang tersingkir: 40%
Keterangan: Meski kerap melakukan blunder pada musim lalu, kemampuan Cristian Chivu masih dibutuhkan oleh Inter. Namun, dengan posisi asli sebagai bek kiri, peran Chivu akan tergerus dalam formasi tiga bek yang diterapkan Gasperini. Jika bermain sebagai bek tengah, dia harus bersaing dengan Lucio, Samuel, dan Ranocchia. Sementara sebagai wing-back kiri, agresivitas menyerang Chivu tak sebaik Yuto Nagatomo.
Lini tengah:

Kontrak sampai: 30 Juni 2012
Peluang tersingkir: 50%
Keterangan: Gelandang asal

Kontrak sampai: 30 Juni 2013
Peluang tersingkir: 60%
Keterangan: Mariga merupakan salah satu pemain yang hampir pasti terdepak dari skuad Inter. Sejak didatangkan pada Januari 2010, gelandang asal
Lini depan:

Kontrak sampai: 30 Juni 2014
Peluang tersingkir: 40%
Keterangan: Sejatinya posisi Pandev sangat cocok dengan

Kontrak sampai: 30 Juni 2015
Peluang tersingkir: 40%
Keterangan: Kesan pertama yang dihadirkan Coutinho pada musim pertamanya ternyata belum memuaskan dua pelatih terdahulu. Musim panas ini, jika Inter jadi mendatangkan Rodrigo Palacio, Ricky Alvarez, atau Erik Lamela, posisi penyerang belia asal Brasil itu akan semakin tersisih. Opsi peminjaman atau melepas dengan klausul buy-back mungkin bakal dilakukan Inter untuk memberinya pengalaman bermain.


